Kau bilang aku adalah teman,
Kau bilang aku adalah sedarah,
Kau bilang aku adalah bagian utuh dari padamu
Wahai saudara-ku
Dalam cengkramanmu, dalam pangkuanmu,
Banyak tanya yang belum ku temui jawab
Banyak keresahan yang belum ku temui penenangnya
Wahai saudara-ku
Setengah abad, bahkan lebih waktu yang kita lalui bersama
Beratap langit dan beralas tanah ku yang subur melimpah
Kau sungguh kagum dan menikmatinya
Kau bahkan telah menghilangkan nilai sakral daripada tanah Ku
Kau bilang aku adalah teman,
Kau bilang aku adalah sedarah,
Kau bilang aku adalah bagian utuh dari padamu
Wahai saudara-ku
Kau menghianati Ku
Kau beri sebagian tanah Ku kepada orang asing
Kau mengeruk tanah Ku sesukamu
Kau sama sekali tidak meminta restu Ku
Tidakkah kau tau? Leuhur Ku masih bersemayam diatas tanah Ku
Tidakkah kau tau? Banyak darah yang mengalir diatas tanah Ku sembari kau menikmatinya
Tidakkah kau tau? Banyak tangisan yang dibiarkan begitu saja
Tidakkah kau tau? Banyak teriakan yang kau bungkam atas ketidakadilan di tanah-ku
Kau bilang aku adalah teman,
Kau bilang aku adalah sedarah,
Kau bilang aku adalah bagian utuh dari padamu
Wahai saudara-ku
Aku ragu, ketika kau bilang aku adalah saudara-mu
Ya, aku ragu
Aku bahkan merasa bukan seperti seorang saudara bagimu, apalagi sedarah denganmu..
'Spoken Words Poetry: Unlawful Killing in Papua' oleh @amnestyindonesia kolaborasi @papuanmovements @papuansspeak @amnesty_uncen @amnesty_unipa
19 September 2021

Comments
Post a Comment