Skip to main content

Bedah Buku : Maca Geguritan ing Amerika

 

     Peluncuran dan bedah Buku “Maca Geguritan Ing Amerika” karya Yosep B. Margono yang diselenggarakan oleh Sanggar Bahasa dan Sastra Smara Muruhita Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Budaya Untag Semarang. Acara tersebut diadakan bertepatan pada hari Sumpah Pemuda, Rabu 28 Oktober 2020. Narasumber bedah buku ”Maca Geguritan Ing Amerika” tidak hanya Penulisnya saja namun juga ada Dr. Tengsoe Tjahjono, beliau merupakan Dosen  juga Sastrawan Indonesia yang benar – benar mencintai karya sastra melalui karya tulis yang dihasilkannya. Kegiatan ini dipandu oleh Kustri Sumiyardana, salah satu peneliti Sastra.


(Gambar. Yosep Margono @yosepbmargono Instagram Profile)


     “Maca Geguritan Ing Amerika” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Membaca Puisi di Amerika” merupakan sebuah buku yang secara rinci berisi, Memoar atau pengalaman pribadi penulis selama menempuh pendidikan Sarjana & Pasca Sarjana di Negri Paman Sam, Amerika yang ditulis tetap berfokus pada Sastra Jawa. Secara umum buku ini berisi apresiasi penulis terhadap Sastra Jawa baik Puisi, Cerpen maupun Novel yang telah dibaca juga kritik penulis terhadap atmosfir & ekologi Sastra Jawa di Indonesia. Buku tersebut telah ditulis lama dan diterjemahkan sendiri oleh penulis.
    Sebagai narasumber,  Dr. Tengsoe Tjahjono menyambut baik hadirnya buku Maca Geguritan Ing Amerika. Beliau menyampaikan bahwa bahasa Jawa harus tetap dihidupkan dengan berbagai macam cara oleh sebab itu harus terus didukung dan promosikan dengan berbagai macam cara. Tidak hanya melalui komunikasi saja melainkan karya – karya Sastra berupa tulisan yang dihasilkan sehingga tidak punah terkikis peradaban. Salah satu contoh yang dimaksud beliau, bahasa Jawa tidak hanya dijadikan muatan lokal namun dapat menjadi materi wajib pada tingkat sekolah dasar. Bagi beliau, Antologi Jawa sangat penting untuk dikembangkan sehingga banyak anak muda yang tertarik. Melihat kondisi sekarang, millenials lebih suka untuk mempelajari hal baru seperti bahasa dan budaya negara lain. Padahal bahasa sendiri merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dibanggakan.
    Dari beberapa pertanyaan yang muncul dari partisipan salah satunya adalah bagaimana cara tentang motivasi untuk mengembangkan Sastra Jawa ?  Ya, tak lain melalui menulis karena ada banyak hal yang dapat ditulis bila dengan sungguh – sungguh maka akan menjadi biasa sehingga orang tidak hanya mengenal sastra Jawa tapi juga mengenal penulis, kapasitas, keterampilan & kesungguhannya dalam menyapaikan karya sastra Jawa.
    Dr. Tengsoe Tjahjono berpendirian bahwa menulis murni sebuah sastra tidak ada kaitannya pada ekonomi dan politik. Tidak perlu untuk dihargai yang penting luar biasa. Bahasa Jawa secara perkembangannya tidak akan punah bila tidak dipraktekkan dalam keseharian. Bahasa merupakan hasil dari kesepakatan sosial yang dibangun oleh para penutur ketika mereka berkomunikasi dan menjadi terbiasa. Bahasa sebagai identitas bukan sesuatu yang tidak bisa berubah, karena dari waktu ke waktu dapat berubah seiring perkembangan zaman. Identitas ke – Jawa - an tidak hanya hadir dalam bentuk bahasa saja, kadang bila menulis dan memasukan nilai – nilai Jawa atau mengandung prinsip – prinsip identitas ke – Jawa - an justru menjadi sungguh – sungguh sehingga kita tidak perlu cemas untuk punah.
    Adapun manfaat dari bedah buku “Maca Geguritan Ing Amerika” karya Yosep B. Margono yang diselenggarakan oleh Sanggar Bahasa dan Sastra Smara Muruhita Balai Bahasa Jawa Tengah bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Budaya Untag Semarang, sebagai masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dengan bahasa yang berbeda kita diharapkan lebih mencintai bahasa sendiri meski sedang berada diluar negri. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa, kita juga perlu mengembangkan bahasa tradisional atau bahasa daerah kita sendiri melalui literasi seperti bahasa Jawa tadi yang tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi sehari – hari saja. Maka itu, cobalah kembangkan bahasa tradisional daerah masing - masing ke dalam dunia literasi. Hal itu bukan saja untuk memperkenalkan bahasa tradisional kita kepada orang banyak namun juga turut melestarikannya sehingga dapat diketahui oleh generasi mendatang. Salam literasi ~

Comments

  1. Halo, terima kasih ulasannya. Siapa pemilik blog ini ya?

    ReplyDelete
  2. Luar biasa, perlu ada pengembangan bahasa daerah dalam Dunia Literasi.

    ReplyDelete
  3. Nilai suatu suku penutur bahasa bila di lestarikan kita tidak perlu cemas kepunahan bahasa sebagai identitas kita.

    Sa senang sekali membaca tulisan bunga Kurulu, sebagai hubungan dari setiap paragraf memiliki potensi tersendiri tapi tetap singkong. Love yah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan, Kekuasaan Global dan Perlawanan atas Perampasan Kehidupan

Sumber Gambar Perempuan, Kekuasaan Global dan Perlawanan atas Perampasan Kehidupan Tema International Women’s Day 2 026 menegaskan dua pesan yang saling melengkapi. Di tingkat resmi, melalui UN Women, dunia mengusung seruan Rights. Justice. Action. For All Women and Girls.  Sementara dalam kampanye global yang lebih luas, muncul semangat Give to Gain  yang menekankan solidaritas, kolaborasi dan saling menguatkan antar perempuan. Kedua tema ini benar-benar sangat berkaitan. Rights, Justice and Action  berbicara tentang kewajiban negara dan struktur kekuasaan untuk menjamin hak serta keadilan melalui kebijakan nyata. Adapun Give to Gain  menegaskan bahwa perubahan tidak hanya lahir dari regulasi, tetapi juga dari keberanian berbagi ruang, akses, pengetahuan dan dukungan di antara sesama perempuan. Di tengah dunia yang masih didominasi kepemimpinan laki-laki dalam pusat kekuasaan politik serta ekonomi global, tema ini menjadi relevan dan mendesak. Data UN Wo...

"Saudara tak Sedarah"

Kau bilang aku adalah teman, Kau bilang aku adalah sedarah, Kau bilang aku adalah bagian utuh dari padamu Wahai saudara-ku Dalam cengkramanmu, dalam pangkuanmu,  Banyak tanya yang belum ku temui jawab Banyak keresahan yang belum ku temui penenangnya Wahai saudara-ku Setengah abad, bahkan lebih waktu yang kita lalui bersama Beratap langit dan beralas tanah ku yang subur melimpah Kau sungguh kagum dan menikmatinya Kau bahkan telah menghilangkan nilai sakral daripada tanah Ku Kau bilang aku adalah teman, Kau bilang aku adalah sedarah, Kau bilang aku adalah bagian utuh dari padamu Wahai saudara-ku Kau menghianati Ku Kau beri sebagian tanah Ku kepada orang asing Kau mengeruk tanah Ku sesukamu  Kau sama sekali tidak meminta restu Ku Tidakkah kau tau? Leuhur Ku masih bersemayam diatas tanah Ku Tidakkah kau tau? Banyak darah yang mengalir diatas tanah Ku sembari kau menikmatinya Tidakkah kau tau? Banyak tangisan yang dibiarkan begitu saja Tidakkah kau tau? Banyak teriakan yang kau bu...